Pengertian Filsafat Pendidikan.
FILSAFAT PENDIDIKAN.
Filsafat
pendidikan bisa juga di sebut induk dari segala ilmu atau semua ilmu;ilmu yang
mencari kebenaran yang mendalam hingga sampai hakikat terakir(subtansi
terdalam) sehingga filsafat bisa di sebut dengan "cinta
kebenaran".Dengan demikian filsafat pendidikan adalah ilmu yang
mempelajari secara mendasar atau mendalam hingga di temukan hakikat tentang
hakikat atau subtansi pendidikan.
Filsafat pendidikan merupakan suatu kegiatan
tingkat tinggi yang berpangkal pada teori dan praktik pendidikan.
Secara lebih rinci
filsafat pendidikan terdiri dari (1) Filsafat praktik pendidikan dan (2)
Filsafat ilmu pendidikan. Filsafat praktik pendidikan terdiri dari (a) Filsafat
proses pendidikan, yang juga disebut dengan “Filsafat Pendidikan” saja dan
(b) Filsafat sosial pendidikan.
Filsafat Pendidikan
menurut Para Ahli.
Plato merupakan
filosofi yunani yang aktif mengembangkan filsafat dengan mendirikan sekolah
khusus yang disebut ‘academia’. Plato berpandangan bahwa konsep ide merupakan
pandangan terdapat suatu dunia di balik alam kenyataan, sebagai hakikat dari
segala yang ada. Artinya apa yang diamati sehari-hari adalah ide tersebut,
sebagai sumber segala yang ada: kebaikan dan keburukan. Ide merupakan suatu hal
yang objektif yang didalamnya berpusat dan dikendalikan oleh puncak ide yang
digambarkan sebagai ide tentang kebaikan yang diformulasikan sebagai tuhan
Aristoteles yang
merupakan bapak ilmu berpandangan bahwa ilmu pendidikan dibangun melalui riset
pendidikan. Riset merupakan suatu gerak maju dan kegiatan-kegiatan observasi
menuju prinsip-prinsip umum yang bersifat menerangkan dan kembali kepada
observasi. Pandangan ini berkembang pada abad 13 – 14.
Aristoteles
berpandangan bahwa ilmuan hendaknya menarik kesimpulan secara induksi dan
deduksi. Dalam tahapan induksi, generalisasi-generalisasi
(kesimpulan-kesimpulan umum) tentang bentuk ditarik dari pengalaman
pengindraan. Selanjutnya kesimpulan yang diperoleh dari tahapan induksi
dipergunakan untuk premis-premis untuk deduksi dari pernyataan-pernyataan
tentang observasi.
Penyempurnaan teori aristoteles
dilakukan oleh beberapa filosofi lain yaitu:
- Robert Grosseteste
yang menyebutkan bahwa metode induktif-deduktif Aristoteles sebagai Metode
perincian dan penggabungan. Tahap Induksi meruapakan sebuah perincian gejala
yang menjadi unsur-unsur pokok dan tahap deduksi sebagai penggabungan
unsur-unsur poko yang membentuk gejala asli.
- Roger Bacon
mengusulkan agar matematika dan eksperimen merupakan dua instrumen utama dari
penyelidikan ilmiah. Dia mengemukakan ada tiga hak istimewa Ilmu Eksperimental
: (1) kesimpulan yang diperoleh melalui penalaran induksi diuji lebih dulu
dengan eksperimen; (2) penggunaan eksperimen dalam penyelidikan ilmiah menambah
ketelitian dan keluasan pengetahuan faktual; (3) dengan kekuatannya sendiri,
tanpa bantuan ilmu-ilmu lainnya, eksperimen dapat menyelidiki rahasia alam.
- John Duns Scotus yang
menegaskan sebuah metode induksi dalam bentuk persamaan, yaitu merupakan teknis
analisis sejumlah hal khusus yang mempunyai pengaruh khusus terhadap peristiwa.
- Ockham yang menegaskan
metode induksi dalan bentuk perbedaan, bahwa ilmuwan dalam menyusun pengetahuan
tentang apa yang diciptakan Tuhan dengan melalui induksi hanya terdapat
kesatuan-kesatuan yang bersifat pembawaan di antara gejala-gejala. Metode
Ockham membandingkan dua hal khusus dimana yang satu ada pengaruhnya dan
satunya lagi tidak ada pengaruhnya.
Filsuf pertama yang
memperhatikan dan memberikan konsidensi terhadap orientasi pemikiran filsafat
pendidikan adalah Johan Amos Comenius seorang pendeta Protestan. ia
berpandangan bahwa manusia itu diciptakan oleh Tuhan dan untuk Tuhan. Manusia
diciptakan dan ditempatkan di atas semua makhluk, karena kemampuannya dalam
berfikir. Percikan pemikiran Comenius berpengaruh pada teori-teori
pendidikannya. Salah satunya adalah peserta didik harus dipersiapkan kepada dan
untuk Tuhan.
Comenius juga
berpendapat tentang prosedur dalam bidang pendidikan bahwa dari pada membuat
kerusakan pada proses alam, lebih baik bersahabat dengan proses alam tersebut.
Pendapatnya ini berimplikasi pada pelaksanaan pendidikan dengan keharusan tidak
merusak alam dan meniru perkembangan alam. Artinya proses pendidikan tidak dilakukan
secara tergesa-gesa, melainkan dilakukan secara terencana dan bertahap sesuai
dengan tahapan perkembangan fisik dan psikis peserta didik.
Hal tersebut awal dari pemikiran filsafat pendidikan naturalisme yang lahir pada abad 17 dan mengalami perkembangan pada abad 18.
Hal tersebut awal dari pemikiran filsafat pendidikan naturalisme yang lahir pada abad 17 dan mengalami perkembangan pada abad 18.
Dimensi mengenai
pemikiran filsafat pendidikan naturalisme adalah sebagai berikut:
- Dimensi utama dan
pertama dari pemikiran filsafat pendidikan Naturalisme di bidang pendidikan
adalah pentingnya pendidikan itu sesuai dengan perkembangan alam. Hal tersebut
sesuai dengan yang dikemukan oleh comenius
- Dimensi kedua dari
filsafat pendidikan Naturalisme yang juga dikemukakan oleh Comenius adalah
penekanan bahwa belajar itu merupakan kegiatan melalui Indra.
- Dimensi ketiga dari
filsafat pendidikan Naturalisme adalah pentingnya pemberian pemahaman pada akal
akan kejadian atau fenomena dan hukum alam melalui observasi. Observasi berarti
mengamati secara langsung fenomena yang ada di alam ini secara cermat dan cerdas.
Pendapat Copernicus di atas sangat berpengaruh pada abad ke 18, sehingga abad
ini dikenal dengan sebutan abad rasio (age of reason) atau Rasionalisme.
- Demensi terakhir dari
percikan pemikiran filsafat pendidikan Naturalisme juga dikembangkan oleh Jean
Jacques Rousseau berkebangsaan Prancis yang naturalis mengatakan bahwa
pendidikan dapat berasal dari tiga hal, yaitu ; alam, manusia dan barang. Bagi
Rousseau seorang anak harus hidup dengan prinsip-prinsip alam semesta.
Naturalisme di bidang
pendidikan juga dielaborasi oleh kerangka pemikiran John Locke, Ia mengemukakan
bahwa teori dalam jiwa diperoleh dari pengalaman nyata, tidak ada sesuatu dalam
jiwa tanpa melalui indra. Jiwa senantiasa kosong dan hanya terisi apabila ada
pengalaman. Oleh karena alam merupakan spot power bagi
pengisian jiwa, maka proses pendidikan harus mengikuti tata-tertib perkembangan
alam. Kalau alam serba teratur, ia menghendaki pengajaranpun harus teratur.
Mata pelajaran harus diajarkan secara berurutan (sequence) , step
by step dan tidak bersamaan.
Bagas Panur Permana
15120382
PGSD.
Komentar
Posting Komentar